judul PKM-GT
20.30 Edit This 0 Comments »1. Konsep Pemanduan Berpikir Kritis (Cognitive Coaching)
Belakangan telah ditemukan sebuah metode pemanduan berpikir kritis (cognitive coaching) yang dirintis oleh Art Costa dan Bob Garmston yang menitikberatkan peningkatan kapasitas kognitif (berpikir). Costa dan Garmston menjabarkan kapasitas kognitif ini sebagai cara berpikir yang merangsang diri seseorang atau orang lain untuk mempola pemikiran mereka dan kemampuan-kemampuan memecahkan masalah. Dengan kata lain, cognitive coaching membantu setiap orang untuk mengubah kemampuan dalam rangka mengubah diri. Cognitive Coaching dilatari oleh empat asumsi pokok, yakni:
- Pikiran dan persepsi menghasilkan seluruh perilaku;
- Mengajar adalah proses pembuatan keputusan secara konstan;
- Untuk belajar sesuatu yang baru membutuhkan keterlibatan dan perubahan
dalam pemikiran; dan
- Manusia terus tumbuh berkembang secara kognitif.
Jantungnya cognitive coaching adalah konsep yang menyebutkan bahwa setiap orang mempunyai sumber daya atau potensi yang membantu kita untuk tumbuh berkembang dan berubah dari dalam. Costa dan Garmston mengistilahkannya “keadaan pikiran” (States of Mind). Adalah keadaaan pikiran ini yang membantu setiap orang untuk memberdayakan setiap potensi dalam dirinya dengan efektif. Keadaan pikiran ini terdiri atas lima sumber energi, yakni: efektivitas, fleksibilitas, keterampilan, kesadaran.
Titik berat cognitive coaching ini adalah pada keterampilan berpikir, kemampuan memecahkan masalah, membuat keputusan, dan memberdayakan potensi diri. Melalui pemanduan yang intensif dari guru, siswa dibimbing untuk melakukan penilaian (judgement) terhadap proposisi-proposisi yang problematik dan kontroversi atau mengandung kesalahan berpikir (fallacy).
Berikut adalah tujuh langkah dalam mengembangkan pemikiran kritis:
1) Knowledge : mencari pengetahuan/informasi sebanyak mungkin (pengalaman, buku, internet, komunikasi, bertanya pada diri sendiri, ahli atau awam
2) Thinking : menyimpulkan, intepretasi, aplikasi, analisis, sintesis, evaluasi
3) Incubation : relax, bermain (membiarkan alam bawah sadar bekerja)
4) Eureka atau Aha : menemukan ide
5) Development : pengembangan ide (fungsional, menguntungkan, efisien, berguna)
6) Practice: punya waktu untuk melatih berpikir kritis/kreatif
2. Rangkaian Sederhana Seri-Paralel
a. Rangkaian Seri

Gambar 2. Rangkaian seri
b. Rangkaian Paralel


Gambar 3. Rangkaian paralel
1) Salah satu komponen yang dibutuhkan oleh lampu untuk bisa menyala adalah tegangan. Semakin banyak kita menambah tegangan, maka lampu dapat menyala semakin terang. Ketika kita membuat rangkaian 1 (seri), kita membuat seri 2 lampu, sedangkan baterai yang dipakai hanya satu. Sehingga tegangan dari 1 baterai itu harus dibagi kepada 2 lampu yang ada. Akibatnya, nyala lampu menjadi redup.
2) Sedangkan pada rangkaian kedua, kita membuat seri 2 baterai dan 2 lampu. Sehingga kita menambahkan tegangan yang berasal dari dua baterai itu. Hasilnya, masing-masing lampu mendapat tegangan yang sama besar, yaitu satu lampu mendapat tegangan dari satu baterai. Tidak perlu berebut tegangan, lain halnya pada rangkaian paralel, di rangkaian ini masing-masing “jalan” yang berada di dalam rangkaian paralel memiliki nilai tegangan yang sama.
3) Jika menambahkan jalannya, nyala lampu tidak akan terpengaruh. Sebanyak apapun lampu dan baterainya, pada rangkaian paralel nyala lampu akan sama seperti ketika menggunakan satu lampu dan satu baterai. Ketika membuat rangkaian pastikan (sumber tegangan) baterai dipasang seri dan hambatan (lampu) dipasang secara peralel, sehingga akan diperoleh data tentang :
4) Hubungan V, I , R dan C pada rangkaian seri
5) Hubungan V, I , R dan C pada rangkaian paralel.
6) Dari percobaan di atas, siswa akan menyimpulkan sendiri hubungan V, I, R, dan C sesuai peristiwa yang diamatinya.
3. Konsep Berpikir Kritis Dengan Pemaduan Rangkaian Seri-Paralel
Ciri- ciri standar berpikir kritis yang teridentifikasi adalah:
1) Tepat atau presisi
2) Komplit
3) Penting
4) logis
5) adil
6) Jelas
7) Akurat
8) Luas
9) Dalam
10) Relevan
Tahapan berpikir kritis dengan rangkaian seri- paralel:
a. Memunculkan konsep berpikir kritis
· Sesuai dengan pengertian berpikir kritis, maka melalui kegiatan praktikum rangkaian seri-paralel siswa dapat berpikir secara eksplisit dilatarbelakangi oleh penilaian yang beralasan dan berdasarkan standar yang sesuai dalam rangka mencari kebenaran, keuntungan, dan nilai sesuatu. Dalam rangkaian seri- paralel terdapat konsep hukum Ohm, yaitu:
. Komponen ketiganya membuat suatu hubungan yang berbeda jika rangkaian disusun secara seri dan paralel. Seperti gambar 1 dan contoh pemasangan dengan satu dan dua sumber tegangan (baterai) dan hambatan (lampu) pada gambar 2 dan 3. Konsep berpikir adalah ketika hal yang akan diamati berhubungan dengan besarnya Vtot, Itot, dan Rtot pada kedua rangkaian. Besarnya nilai V, I, dan R ditentukan oleh seberapa besar dan banyak jumlah tegangan serta hambatan yang digunakan.
b. Memadukan rumusan rangkaian seri-paralel dengan konsep berpikir kritis
1) Rangkaian seri-paralel hanya sebagai media untuk mengembangkan konsep berpikir kritis yang didefinisikan seperti di atas. Berdasarkan konsep fisika tentang hukum Ohm yang terdapat pada kedua rangkaian tersebut, maka hubungan V, I, dan R pada rangkaian seri- paralel yang diharapkan akan diperoleh dan dikemukakan siswa adalah sebagai berikut:
2) Rangkaian seri
a. Rtot = R1 + R2 + R3 + ....
b. Vtot = V1 + V2 + V3 + ....
c. Itot = I1 = I2 = 13 = ....
d. ![]()
3) R = hambatan, V = tegangan, I = kuat arus, C = muatan
4) Rangkaian paralel
a. ![]()
b. VTot = V1 = V2 = V3 = ....
c. ITot = I1 + I2 + 13 + ....
d. CTot = C1 + C2 + C3 + ....
5) Identifikasi hubungan dan penjabaran hukum Ohm pada rangkaian seri-paralel dengan berpikir kritis adalah ketika praktikum tersebut dilakukan dengan susunan seri, maka data yang diperoleh menjadi acuan ketika susunannya diubah ke dalam rangkaian paralel. Hal ini yang mendasari siswa untuk mengkonstruk sendiri pemikiran mereka dengan peristiwa yang diamati berdasar pada pemahaman teoritis tentang rangkaian seri-paralel dan memadukan pemikiran mereka dengan ciri standar berpikir kritis.

0 komentar:
Posting Komentar